Hai :)
Aku cuman nerusin apa yang seharusnya aku post Kamis kemaren. Well, seenggaknya apa yang mau aku tulis kesampaian :)
Tapi,
Aku bingung darimana aku harus memulai cerita ini.
Iya, cerita dimana semua cerita manis dan pahit yang
aku lalui bersamanya terjadi.
Flash back.
Surabaya, 13 Maret 2014.
Aku, cewek yang memiliki rasa bersalah yang tinggi
menceritakan apa saja yang bisa membuatku kurang nyaman.
Dia, cowok yang begitu sabar menghadapi segala
kekuranganku membawaku ke tempat dimana dia menyatakan perasaannya padaku 6,5
bulan yang lalu.
“Mas, maaf
ya kalau aku masih sering nangis di depan mas,”
“Udahlah Nay,
aku loh beberapa hari ketemu kamu, udah ngeliet kamu nangis di depanku. Jadi ya
udah gak masalah lagi kalau kamu nangis di depanku.”
Ada rasa bersalah yang muncul karena aku begitu lemah
menjadi seorang perempuan. Iya. Aku sosok yang begitu cengeng, bukan? Tapi dia
masih setia menjadi seseorang yang begitu spesial di hidupku setelah orang tua
dan adikku.
Dia menceritakan apa – apa saja yang telah kami lalui
bersama.
Mulai dari awal pertemuan hingga sekarang.
Aku masih ingat dengan jelas gimana aku bisa jadian
sama dia.
Iya.
Dia dengan detilnya menceritakan awal pertemuan kami
di bandara. Pertemuan yang unik. Karena kami sebelumnya belum pernah bertatap
muka.
Aku masih ingat betapa canggungnya dia ketika
bersalaman denganku. Bukan hanya salaman, bahkan selama di perjalanan menuju
kosku dia lebih banyak diam.
Dan dia menceritakan alasan kenapa dia bisa tertarik
bahkan jatuh cinta sama seorang Nay.
Ya apa ya,
Gak nyangka aja ada cowok secara blak – blakan ngungkapin
perasaannya ke seorang cewek, karena rata – rata cowok sekarang malu untuk
jujur ke cewek yang dia suka.
Dan aku masih ingat betapa susahnya dia menahan
emosinya ketika aku membalas perasaannya.
“Aku masih
ingat suara Nay waktu bilang ‘iya, Nay mau kok,’ ke aku...”
Biasanya cowok pasti lupa hal sepele yang ada dalam
suatu hubungan. Tapi dia enggak.
Aku gak nyangka aja ternyata dia inget hal seperti
itu...
“Aku juga masih
inget waktu itu mukanya Nay kayak gimana...”
Hahaha..
Iya.
Untung aja waktu itu di dalam mobil gelap. Tapi mukaku
panas banget. Dan wajahku bersemu kemerahan seperti tomat.
Sedangkan dia, menahan semua emosi yang dia rasakan. Bukan
emosi negatif, tapi sebuah emosi yang mewakili perasaannya saat itu.
Aku gak pernah ngerasain yang namanya “having a
boyfriend in real life”.
Iya, aku pernah pacaran dulunya, tapi gak se real aku
sama Allvin.
Kenyataannya sekarang, aku begitu menyayangi cowok
bernama Allvin itu walau ada hal mendasar yang membuat kami sulit untuk
dipersatukan.
Gak.
Aku gak mau nyerah begitu aja.
Dia sayang Nay.
Nay juga sayang dia.
Udah saling sayang, kenapa putus asa dan gak mau
ngejalanin semuanya?
Gak.
Aku akan berusaha menjalani hari – hariku sama dia,
walau aku tau akan ada lagi rintangan yang berat dan akan semakin banyak air
mata yang mengalir di pipiku dan dia.
Surabaya, March 15th 2014
About 12.40PM
From Nay to Allvin
From Boo to Bii
From Pooh to TED
From Dedek to Mas
With LOVE
No comments:
Post a Comment