Hai :)
Kali ini aku mau berbagi sakit yang kami rasa. Sakit yang
awalnya aku rasa cukup kami saja yang merasakan hal ini, tapi aku nyoba buat
sharing ke pembaca blogku. Mungkin orang fikir ini agak berlebihan tapi aku gak peduli. Semoga menginspirasi :)
Seperti biasa, setiap hari Senin jadwal kuliahku
dimulai pukul 7.30 dimana setiap harinya aku selalu dijemput seorang laki –
laki yang sudah 6 bulan menjalani hubungan denganku.
Sebenarnya, sejak hari Minggu ada suatu hal yang
mengganggu fikiranku.
“Dek, mas jam
10 besok izin ke dokter ya...”
Ke dokter?
Setauku, cowokku kalau demam gak pernah ke dokter.
Dia kenapa?
Sakit apa?
Kok gak cerita?
Iya. Sebagai seorang perempuan, wajar kalau aku
bertanya tentang apa yang terjadi. Aku berusaha menenangkan diriku, tapi sia –
sia.
Setiap aku tanya “Mas kenapa?” dia selalu jawab “udah, gapapa. Mas baik – baik aja kok”. Itulah
cowok. Kalau sakit, pasti jawabnya gak papa.
Udah jelas mau ke dokter, masih bilang gak papa. Cara itu gak ngefek
untuk nenangin fikiranku.
Seninnya, setelah sampai di kampus, aku masih
menanyakan apa yang terjadi.
Dia cuman mengarahkan tangan kanannya. Aku melihat
ada benjolan di pergelangan tangan kanannya. Aku pernah melihat hal serupa
sebelumya, waktu itu aku melihatnya di tangan bunda dan ayah namun aku buta
dengan nama penyakit itu.
“Mas mau ke
dokter bedah. Doain mas gak kenapa – kenapa ya, Dek..”
DEG
Jantungku berdetak keras. Gak tau kenapa, perasaanku yang awalnya sudah kurang
enak semakin gak enak.
“Iya mas, dedek ngedoain mas terus...”
Setelah sarapan, dia nge-drop aku di parkiran
jurusan, dan dia pun pergi ke dokter. Disatu sisi, aku ingin ada disampingnya
sama seperti waktu dia menemaniku ke dokter enam bulan lalu, tapi disisi lain,
ada orang tuanya dan dia membujukku agar aku tidak ikut bersamanya. Ya, aku
mengalah lagi...
Selama jam kuliah, aku selalu menunggu update
personal message BBMnya. Berharap gak terjadi apa – apa. Namun, tak lama
setelah aku unlock hp ku, dia mengupdate PM nya.
“): diarfa”
Sebuah kata yang dibalik menjadi “afraid :(“. Aku berusaha
menenangkan perasaannya.
“Mas takut karna ga ada dedek ya? ;;)”
“Hmm bisa jadi
:(“
Dan aku pun mengganti PMku dengan “everything will be
alright ({})”
Disatu sisi, aku mencatat semua materi yang
diterangkan dosenku. Tapi disisi lain aku masih BBMan dengannya. Berusaha bagaimana
perasaannya bisa tenang walau sesaat.
“Dek, mas masuk
ke ruangan dokternya dulu, ya.. Doain mas gak kenapa – kenapa :’) ”
“Iya mas, aamiin...”
***
Kelas berakhir lebih cepat, jauh dari prediksiku yang
biasanya dosennya selalu telat mengakhiri jam kuliah. Aku membawa ranselku
bejalan keluar kelas dan akupun duduk di pelataran depan kelas. Setelah duduk,
aku segera mengecek BBM, dan benar saja.
PM yang awalnya “ ): diarfa” berganti menjadi “ :’)
koc”. Iya, kalau dibalik jadi “cok :’) “
“Mas kenapa?” tanyaku padanya via BBM, dan dia
membalasnya.
“Nanti mas
ceritain. Dedek sayang, kamu udah berapa kali bolos ASD?”
“Belum pernah mas. Kenapa ta?”
“Mau gak
nemenin mas? Bolos satu kali, ya...”
“Hmm ok. Gak masalah :)”
“Yakin?”
“Iya mas.. :*”
Aku bolos bukan karena malas. Dia butuh Nay. Anggap aja
bolosku kali ini ngambil jatah bolos. Toh di mata kuliah itu aku baru bolos
sekali. Tapi, lagi – lagi perasaanku bilang ‘gak papa Nay, Allvin butuh Nay.’
***
Dia mengajakku pergi ke mall terdekat dari daerah
kampus. Kami menonton “300 – Rise of the Empire”. Selama perjalanan menuju kesana,
dia menceritakan apa yang dokter bilang padanya.
“Dek, kata
dokter, tangan mas bakal dioperasi...”
Entah kenapa, hal yang aku fikirkan adalah, kalau
tangannya dioperasi, otomatis dia gak bisa main flagfootball lagi.
“Trus, gimana flagfootball mas?”
“Otomatis aku
gak bisa main. Pemulihannya 2 atau 3 bulan. Dan kamu gak usah mikir pusing
kemana pas hari ulang tahun kamu nanti.”
“Padahal, dedek mau bilang kalau dedek mau ke
Semarang sama mas...”
“Gak usah Nay..”
Sedih rek. Apa yang jadi hobi lo, gara-gara sebuah
penyakit, jadi gak bisa lagi ngejalanin hobi itu.
Aku hanya melihat ke arah jalan. Dia berusaha
menggenggam tanganku. Dan dia menoleh ke arahku, penasaran.
“Gak, Nay gak nangis kok. Nangisnya disini,” aku pun
meletakkan tangan kananku di dada kiriku.
Iya. Aku hanya bisa menangis di dalam hati dan itu
rasanya menyakitkan daripada menangis secara langsung.
***
Kami menunggu jadwal show film yang akan kami tonton.
Aku duduk di sebelah kirinya, melihat dia yang sesekali mengusap tangan
kanannya yang ada benjolan itu. Respek, tangan kiriku menutup pergelangan
tangan kanannya, dan tangan kananku menggenggam tangan kirinya.
Entah kenapa, air mata yang awalnya aku tahan,
akhirnya pecah juga.
“Nay kenapa
nangis? Jauh dari nyawa, juga...”
“Iya, Nay tau. Tapi ya.. itu...”
“Nay, aku
ngajak kamu nonton, buat seneng – seneng sama kamu. Jangan nangis gini lah...”
“Iya, Nay tau.. Maaf..”
Dia mengeluarkan hp nya dari saku. Melihat BBm yang
masuk. Dan dia memperlihatkan contact bbm ibunya. Pmnya “semoga semuanya
baik-baik saja o:)”.
“Mas, PM ibu sama ama Nay...”
“Iya, beda
versi. Ibu pake bahasa Indonesia, sedangkan Nay bahasa Inggris. Gak salah kan
kalo aku bilang kamu sama ama ibu. Udah, Nay gak usah nangis...”
“Dedek sayang mas,”
“Mas juga
sayang dedek...”
Aku menghabiskan waktuku bersama dia. Ya walaupun gak
lama, tapi seenggaknya bisa mengurangi rasa gelisahnya.
“Nay, abis
nonton aku ke dokter lagi ya, mau periksa lagi...”
“Hmm oke deh mas...”
Pada dasarnya aku masih ingin berlama – lama dengannya.
Tapi aku harus mengalah. Demi kesehatannya :’)
***
Malamnya, aku skype sama dia. Dia menjelaskan hasil
pemeriksaan dokter.
Nama penyakitnya itu Ganglion. Menurut situs http://bedahminor.com,
Ganglion merupakan kista yang berisi cairan bening
kental dengan dinding tipis yang berasal dari tonjolan selaput sarung tendon
(tendon sheath). Pada banyak kasus, ganglion asimptomatik dan jarang
menimbulkan gangguan fungsional. Walaupun pada beberapa kasus, ganglion dapat
mempengaruhi struktur di dekatnya seperti arteri, vena, tendon dan syaraf.
Aku berusaha mencari
info lebih lanjut tentang ganglion dan cara pengobatannya. Tapi dia tetap akan
menjalankan operasi, gak tau kapan. Aku hanya bisa menyemangatinya. Dan entah
kenapa omongannya mulai ngelantur, dari minta tangannya dipotong, trus dia
takut Nay ninggalin dia, pokoknya banyak dan itu sukses bikin aku rada kesel
sendiri.
Gimanapun kamu, walaupun kamu udah gak jadi quarterback lagi di kemudian hari, aku tetep sayang kamu, Allvin!!!
Aku sayang kamu apa
adanya. Kamu ya kamu. Sekalipun nantinya kamu gak bisa apa – apa lagi karena
efek dari operasi itu, Nay bakalan ada buat Allvin.
Jujur, Nay beneran
sedih karena ada beberapa momen yang belum kami lakuin bersama, seperti
olahraga bareng. Untungnya, dia masih bisa main basket tapi gak bisa dribble. Seenggaknya aku masih bisa bikin momen baru sama kamu...
Walaupun kamu nantinya
gak bisa olahraga berat, Nay bakalan ada disamping kamu. Masih jadi Nay yang
dulu, masih jadi Nay yang sayang sama Allvin. Masih jadi Nay yang peduli sama Allvin. Masih jadi Nay yang nerima Allvin apa adanya.
Keep fighting, dear!
Aku yakin kamu bisa
ngejalani ini semua.
I love you, Allvin :*
Surabaya,
March 11th 2014
About 11.25PM
From Nay to Allvin
From Boo to
Bii
From Pooh to
Ted
From Dedek to
Mas
With LOVE
PS:
Katanya, kalo seorang manusia
dikasi penyakit sama Tuhan, tandanya orang sakit itu lagi dekat sama Tuhannya
:)
Oh iya, maaf ya gak
ngasi foto :p
No comments:
Post a Comment