Pages - Menu

Tuesday, November 18, 2014

Untitled - Random Post



Hai :)
Ternyata udah cukup lama aku gak ngepost sesuatu di blogku ini. Lagian siapa juga yang mau baca -_-
Abaikan sedikit bacotanku, hahaha. Pada dasarnya aku mau posting sesuatu tapi entah kenapa tiba – tiba inspirasi untuk bloggingku raib *tanya kenapa*.
Mungkin, di postinganku kali ini, aku akan nge”bacot” atau apalah itu istilahnya.
Silakan menikmati tulisanku sambil makan. Kalau sambil minum entar gadgetmu ketumpahan minum, kan susah mbersihinnya *okeinibercanda*.
Selamat membaca ;)
***

Hari demi hari kulalui, menikmati setiap detik yang mengalir mengitariku.
Aku dan dia, telah menjalani hubungan ini selama 14 bulan lebih, bahkan Nopember ini memasuki bulan ke-15 kami bersama. Berbagai macam kisah yang kami lalui bersama. Baik itu kisah manis ataupun pahit. Tertawa bersama bahkan tangis pahit pun pernah kami lalui. Sebuah harapan bahkan kekecewaan pun pernah kami rasakan. Namun segala macam perasaan itu membuat kami belajar mempertahankan satu sama lain. Ketika yang satu mulai lemah, yang lainnya menguatkan.

Selama 14 bulan itulah, kami belajar mengetahui karakter asli diantara kami. Dia, belajar mengenali siapa aku, dan aku, belajar mengenali siapa dia.

Kadang, setelah beberapa bulan kami lalui, banyak hal yang sebenarnya menamparku dengan keras namun sakitnya tamparan itu tak membuatku menghentikan kisahku dengannya.

Terkadang, aku bingung.
Disatu sisi, aku begitu menyayanginya.
Namun disisi lain, apa yang aku rasakan itu bisa bertahan sampai waktunya???
***
Telah banyak hal yang kami lalui bersama, dan entah kenapa aku merasa begitu banyak kekecewaan yang hadir untukku, mulai dari sebuah kekecewaan yang kecil hingga membuatku merasa down.
Dan entah kenapa juga aku merasa dia amat begitu berubah. Kadang aku merasa dia memang pacarku namun entah kenapa kadang aku merasa bersama orang lain ketika didekatnya. Aku merasa aku tidak menemukan seorang Allvin yang dulu, yang bisa membuat moodku baik ketika aku down, membuatku merasa kuat ketika siapapun dan apapun merasa berhak menjatuhkanku.

Aku tau, waktu berjalan terus. Namun, semakin hari yang aku rasakan bukan seperti dulu lagi.
Dia yang sekarang,
Begitu sibuk dengan dunianya. Dan aku merasa aku agak dikesampingkan.
Bahkan ketika kami bersama pun, dia begitu sibuk dengan handphone nya yang tentu saja kadang membuatku kesal. Namun kalau aku memainkan handphoneku, kadang dia merasa kesal, sebut aja gak suka.
Namun, ketika kami bersama dan keduanya sama-sama diam, no one try to start the conversation. I think it was so pathetic.
Do we still in love?
Do we still in a sweet relationship?
Do we still...

I try to hold his hand, but I don’t get any respond sometimes.
Little by a little, I lost him. I miss him. He starts to disappear from me. And I think he try to walk away from me. Oh dear, don’t I so pathetic? :’)
***
Lagi-lagi, ada aja suatu hal yang membuat kami berselisih paham.
Oke, aku ngerti salahku dimana.
Tapi, mahalkah sebuah “penerimaan maaf”?
Aku berusaha agar dia tidak bersikap jutek, cuek, apatis atau apalah itu namanya. Tapi, kenyataannya usahaku sia-sia :’)
Kadang, aku mikir sendiri.
Gini ta, sayang?
Gini ta, yang namanya cinta harus memahami satu sama lain?
Padahal...

Aku mencintainya. Iya, orang itu. Lelaki itu.
Tidak berubah.
Dia bisa menanyakan kepada sahabatku bagaimana caraku mencintai.
Aneh, memang. Tapi itulah aku.

Mungkin sekarang, dia bisa saja marah, kesal dan berhenti membaca postinganku. Tapi aku gak peduli.
Sepertinya sayangku untuk dia gak pernah cukup.
Sepertinya sayangku untuknya selalu membuat dia kecewa.
Apa aku harus mencintai dalam diam?

Aku ingin berteriak kepada siapapun yang menertawakanku dan dia kalau inilah kami.
Kami, yang membangun sebuah kisah dengan harus menghadapi kisah pahit.
Kami, yang saling menutup telinga dari ejekan siapapun yang tidak menyukai kami.
Kami, yang belajar mempertahankan satu sama lain walau “jatuh” sudah biasa.
Kami, yang saling berusaha walau kadang “menyerah” di depan mata.
***
Anggap saja, perlahan, aku mencintaimu dalam diam walau sebenarnya hatiku memberontak.
Anggap saja, aku memperhatikan dan mempedulikanmu walau hanya dari jauh.
Dan, entah kenapa, anggap saja, dengan melihatmu dari kejauhan, itu sudah membuatku bahagia walau pada akhirnya air mata yang berbicara.

Aku tak peduli jika tulisan random kali ini membuahkan kata “bullshit”, “tai”, “cih”, atau apapun yang keluar dari mulutmu. Yang jelas, aku masih sanggup untuk cinta dan sayang kamu. Ya walau nantinya kata-kata itu masih terucap dari mulutmu, aku gak peduli. Sounds egoist, but that’s myself. Who never give up to love you.

Surabaya, November 18th 2014
From your someone,


Nay

ps.
Believe or not,
My spirit comes from yourself.
So,
Do you still wanna make me down?

No comments:

Post a Comment