Hai :)
Ternyata udah cukup lama aku gak ngepost sesuatu di
blogku ini. Lagian siapa juga yang mau baca -_-
Abaikan sedikit bacotanku, hahaha. Pada dasarnya aku
mau posting sesuatu tapi entah kenapa tiba – tiba inspirasi untuk bloggingku
raib *tanya kenapa*.
Mungkin, di postinganku kali ini, aku akan nge”bacot”
atau apalah itu istilahnya.
Silakan menikmati tulisanku sambil makan. Kalau
sambil minum entar gadgetmu ketumpahan minum, kan susah mbersihinnya
*okeinibercanda*.
Selamat membaca ;)
***
Hari demi hari kulalui, menikmati setiap detik yang
mengalir mengitariku.
Aku dan dia, telah menjalani hubungan ini selama 14
bulan lebih, bahkan Nopember ini memasuki bulan ke-15 kami bersama. Berbagai
macam kisah yang kami lalui bersama. Baik itu kisah manis ataupun pahit.
Tertawa bersama bahkan tangis pahit pun pernah kami lalui. Sebuah harapan
bahkan kekecewaan pun pernah kami rasakan. Namun segala macam perasaan itu
membuat kami belajar mempertahankan satu sama lain. Ketika yang satu mulai
lemah, yang lainnya menguatkan.
Selama 14 bulan itulah, kami belajar mengetahui
karakter asli diantara kami. Dia, belajar mengenali siapa aku, dan aku, belajar
mengenali siapa dia.
Kadang, setelah beberapa bulan kami lalui, banyak hal
yang sebenarnya menamparku dengan keras namun sakitnya tamparan itu tak
membuatku menghentikan kisahku dengannya.
Terkadang, aku bingung.
Disatu sisi, aku begitu menyayanginya.
Namun disisi lain, apa yang aku rasakan itu bisa
bertahan sampai waktunya???
***
Telah banyak hal yang kami lalui bersama, dan entah
kenapa aku merasa begitu banyak kekecewaan yang hadir untukku, mulai dari
sebuah kekecewaan yang kecil hingga membuatku merasa down.
Dan entah kenapa juga aku merasa dia amat begitu
berubah. Kadang aku merasa dia memang pacarku namun entah kenapa kadang aku
merasa bersama orang lain ketika didekatnya. Aku merasa aku tidak menemukan
seorang Allvin yang dulu, yang bisa membuat moodku baik ketika aku down,
membuatku merasa kuat ketika siapapun dan apapun merasa berhak menjatuhkanku.
Aku tau, waktu berjalan terus. Namun, semakin hari
yang aku rasakan bukan seperti dulu lagi.
Dia yang sekarang,
Begitu sibuk dengan dunianya. Dan aku merasa aku agak
dikesampingkan.
Bahkan ketika kami bersama pun, dia begitu sibuk
dengan handphone nya yang tentu saja kadang membuatku kesal. Namun kalau aku
memainkan handphoneku, kadang dia merasa kesal, sebut aja gak suka.
Namun, ketika kami bersama dan keduanya sama-sama
diam, no one try to start the conversation. I think it was so pathetic.
Do we still in love?
Do we still in a sweet relationship?
Do we still...
I try to hold his hand, but I don’t get any respond
sometimes.
Little by a little, I lost him. I miss him. He starts
to disappear from me. And I think he try to walk away from me. Oh dear, don’t I
so pathetic? :’)
***
Lagi-lagi, ada aja suatu hal yang membuat kami
berselisih paham.
Oke, aku ngerti salahku dimana.
Tapi, mahalkah sebuah “penerimaan maaf”?
Aku berusaha agar dia tidak bersikap jutek, cuek,
apatis atau apalah itu namanya. Tapi, kenyataannya usahaku sia-sia :’)
Kadang, aku mikir sendiri.
Gini ta, sayang?
Gini ta, yang namanya cinta harus memahami satu sama
lain?
Padahal...
Aku mencintainya. Iya, orang itu. Lelaki itu.
Tidak berubah.
Dia bisa menanyakan kepada sahabatku bagaimana caraku
mencintai.
Aneh, memang. Tapi itulah aku.
Mungkin sekarang, dia bisa saja marah, kesal dan
berhenti membaca postinganku. Tapi aku gak peduli.
Sepertinya sayangku untuk dia gak pernah cukup.
Sepertinya sayangku untuknya selalu membuat dia
kecewa.
Apa aku harus mencintai dalam diam?
Aku ingin berteriak kepada siapapun yang
menertawakanku dan dia kalau inilah kami.
Kami, yang membangun sebuah kisah dengan harus
menghadapi kisah pahit.
Kami, yang saling menutup telinga dari ejekan
siapapun yang tidak menyukai kami.
Kami, yang belajar mempertahankan satu sama lain
walau “jatuh” sudah biasa.
Kami, yang saling berusaha walau kadang “menyerah” di
depan mata.
***
Anggap saja, perlahan, aku mencintaimu dalam diam
walau sebenarnya hatiku memberontak.
Anggap saja, aku memperhatikan dan mempedulikanmu
walau hanya dari jauh.
Dan, entah kenapa, anggap saja, dengan melihatmu dari
kejauhan, itu sudah membuatku bahagia walau pada akhirnya air mata yang
berbicara.
Aku tak peduli jika tulisan random kali ini
membuahkan kata “bullshit”, “tai”, “cih”, atau apapun yang keluar dari mulutmu.
Yang jelas, aku masih sanggup untuk cinta dan sayang kamu. Ya walau nantinya
kata-kata itu masih terucap dari mulutmu, aku gak peduli. Sounds egoist, but
that’s myself. Who never give up to love you.
Surabaya, November 18th 2014
From your someone,
Nay
ps.
Believe or not,
My spirit comes from yourself.
So,
Do you still wanna make me down?
No comments:
Post a Comment