Pages - Menu

Friday, March 7, 2014

What is Love?

Hai ^^

Kali ini aku akan menceritakan apa yang tak lama aku alami. Aku menulis ini sambil mendengar lagu "Fly Me to The Moon – Olivia Ong". Yaa kalau mau baca blog ini sambil denger lagu itu, monggo :)
Sebenarnya, bisa dikatakan kali ini aku akan sedikit “curhat”. Gak sedikit sih, tapi lumayan banyak. Aku gak peduli sama siapapun yang baca postinganku ini, ya karna tujuan blogging biar tulisanmu bisa dibaca orang umum.

Semoga menginspirasi :)

Judul tulisanku kali ini “What is Love?”
Kenapa harus menggunakan tanda tanya? Ya apa ya. Aku bingung sebenarnya apa itu cinta.
Menurut www.id.wikipedia.org , cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.

Namun, yang jadi pertanyaan di benak Nay, apa aku benar – benar merasakan apa itu cinta??

Cinta ya??

Hmm...

Aku memang bukan orang yang mengerti apa makna cinta sebenarnya. Bukannya setiap hari kita bisa mendapatkan dan menikmati apa itu cinta? Namun, apa cinta dari orang tua saja yang kita nikmati setiap waktu? Bukannya kita bisa mendapatkan cinta dari seorang teman? Atau sahabat? Atau mungkin pacar??? Oke, kalau yang sudah berumah tangga bisa mendapatkan cinta dari sang suami / istri ataupun anak.

Kali ini, aku akan menceritakan cinta yang aku dapatkan dari seorang cowok. Ya bisa dikatakan sekarang dia itu pacarku.

***

Aku mengetahui dia sejak ulang tahunnya ke-18. Situs jejaring sosial yang membuat kami bisa mengenal satu sama lain. Awal aku bisa mengenalnya karena aku memberi ucapan selamat ulang tahun di facebooknya. Sejak saat itu, kami sering contact dan hubungan pertemanan pun tercipta.

Aku, cewek yang gak pernah memandang seseorang baik dari gender, agama, suku dan lainnya begitu menikmati berkomunikasi dengannya. Hingga aku bertemu dengannya di bandara, 15 Agustus 2013, tepat dimana hari aku menginjak Surabaya untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota pahlawan itu.

Entah kenapa, memang awalnya kami saling canggung ketika awal bertemu. Namun tak lama sesudah itu kami sudah bisa berinteraksi cukup dekat.

Aku sadar, kalau dia tidak seiman denganku. Namun aku tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Bahkan hubungan kami yang awalnya berteman telah berganti status menjadi sahabat. Entah kapan itu, aku gak ingat.

Dua minggu aku mengenalnya, telah banyak sifat dan karakterku yang dia ketahui. Bukan hanya tau, tapi mengerti. Bahkan dialah cowok pertama yang melihatku menangis dan bodohnya aku, aku menangisi orang yang sama sekali tidak menoleh kepadaku.

Dia..
Cowok itu..
Dengan polosnya memberikan tisu untuk seorang Nay yang menangis di dalam mobilnya..

Perlahan, aku sadar, ada seseorang yang begitu menoleh untukku tapi aku tidak menanggapi itu.

Tak lama sesudah insiden itu, aku pun kencan dengannya. Kalo kata anak – anak sekarang, we’re on dating.
Malam sesudah aku dating sama dia, dia menyatakan perasaannya padaku.
Yang aku rasain...
Waktu berhenti berputar untuk sesaat.

Berbagai macam pikiran muncul di benakku. Aku sadar, kalau dia tidak seiman denganku. Tapi, aku memberanikan diriku dan mengatakannya “Apa salahnya mencoba. Kita jalani aja dulu.”

Well, aku memberikan jawaban yang positif untuknya dan..
Ya.
Status yang dulunya teman berganti jadi sahabat, dan sekarang menjadi pacar.

***

Namanya juga menjalin suatu hubungan, tidak selamanya berjalan mulus.
Sedikit demi sedikit kami mulai menemui hal yang bernama “kerikil” di hubungan kami.
Entah apa itu,
Kerikil yang awalnya sedikit, lama kelamaan menjadi banyak.

Mungkin, inilah yang namanya cinta butuh pengorbanan.

Terkadang, aku lelah ketika aku dihadapkan dengan kondisi yang cukup membuatku bingung.
Namun dia, dengan sabarnya mendampingiku menghadapi semuanya.
Menghadapi segala hal yang bisa membuat kami berakhir.

***

Beberapa bulan setelah kami jadian, hubungan kami diketahui oleh keluarganya.

Apa ya..
Aku cuman bisa diam.
Larut dengan pemikiranku sendiri.
Tapi dia tidak pernah meninggalkanku sendiri.

***

Sekarang, sudah 6 bulan aku bersamanya.
Manis dan pahit kita jalani bersama.
Bahkan kami mengenyahkan perbedaan yang kami ketahui.

Namun...
Satu permasalahan muncul lagi.
Ini terjadi ketika dia pulang ibadah.

Entah kenapa pikiran aneh muncul di otakku. Dan something happen.
Aku menjadi Nay yang dingin.
Aku tau, dia ingin memeluk dan menciumku, tapi entah kenapa fisikku tidak sejalan dengan otak dan perasaanku.

Aku benar – benar dibingungkan oleh pemikiranku. Aku mencoba untuk istirahat sejenak dengan mematikan semua koneksi di hpku. Bahkan aku mengaktifkan mode penerbangan di hpku.
Cukup kejam, bukan?
Padahal dia sakit, mungkin butuh Nay.
Tapi Nay juga sakit. Batinnya.

Akhirnya aku menceritakan apa yang sebenarnya aku rasakan padanya.

Jujur, menjadi pacarnya, aku merasa I’m in a dream. A long long dream. Tapi, ketika permasalahan dasar menghampiri, aku merasa ditampar kenyataan.

Setiap aku menikmati waktu bersamanya, aku tidak pernah merasa perih.
Namun, lagi – lagi, aku ditampar kenyataan kalau dia tidak seiman denganku.
Dan itu menyakitkan.
Jujur, aku jenuh.
Aku bukannya sudah jenuh bersamanya, namun aku jenuh jika aku tersadar dari mimpiku.

Wajar saja kalau seorang Nay galau.
Aku mengungkapkan sakitku di akun socmedku. Aku gak peduli kalau dia baca. Dan aku juga gak peduli dengan resiko yang akan aku hadapi nantinya.

Rasanya, aku ingin selalu berada dalam mimpiku. Menikmati setiap waktuku bersamanya. Namun, lagi-lagi, aku ditampar kenyataan. Kenyataan yang menyatakan dengan telak kalau aku Islam dan dia Katolik. So sad, isn’t it? :’)

Entah kenapa, aku tersadar dari semua sikap cuek dan dinginku ke dia.
Beberapa twitku menyadarkan aku dari apa saja yang menghampiri kami.

 
 
Dan akhirnya, aku menulis ini.

Maaf typo -.-" maklumin aja ya :)

Aku menceritakan keluh kesahku padanya. Pada seseorang yang menjadi bagian dari kisah cintaku.
Aku fikir, dia akan meninggalkanku.

Ternyata tidak.

Dia masih menyayangiku.
Dia masih berada disampingku.
Dia masih setia bersamaku.
Dia masih menyemangatiku.
Dia masih menghapus air mataku.
Bahkan dia masih memelukku,
Memeluk seorang Nay yang rapuh.

Dan lagi – lagi, aku tersadar.
Is that What is Love??

Apakah aku akan meninggalkan dia yang begitu menyayangiku?
Bukannya aku sendiri dulu, yang mengatakan kalau ada kalanya hubungan kami dijalani saja dulu?
Bukannya aku dulunya yang sering meyakinkan dia kalau kami bisa bertahan??
Tapi, kenapa aku yang merasa lelah sekarang??
Bukannya akan terasa menyakitkan jika aku mengakhiri rasa yang telah aku dan dia bendung enam bulan lalu??
Bukannya akan lebih menyakitkan lagi nantinya jika setelah berakhir, rasa sayang itu masih ada bahkan semakin besar???

GAK.

Aku gak akan lepasin seseorang yang begitu sayang sama aku.
Yang begitu ngerti karakterku.
Yang begitu sabar menghadapi kekanakanku.
Yang begitu setia menemaniku baik suka maupun duka.
Yang begitu kuat ketika aku butuh sandaran.
Dan dia,
Dia yang membuatku sedikit demi sedikit mengerti apa itu cinta.


Semoga, aku dan dia bisa bertahan sampai akhir.
Ya...
We don’t know how’s next.
At least, we try to do the best from us to us.
Thanks for teaching me what is the patience.
and thanks for teaching me what is love.


I love you, Allvin.
  

Surabaya, March 7th 2014
About 2PM



From Nay to Allvin
From Boo to Bii
From Pooh to Ted
From Dedek to Mas
With LOVE

No comments:

Post a Comment